“ KOMPETISI IDE BISNIS 2018, Oleh HMJ. Manajemen FE UNWAR”

27/02/2018


Salah satu tantangan berat yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dewasa ini adalah adanya jumlah pengangguran  terbuka yang masih sangat besar yaitu tahun 2016 (BPS) mencapai sekitar 7,02 juta orang (5,5%) masih lebih rendah dari tahun 2015 yakni sebesar 5,81 % atau setara dengan 7,45 juta orang dan target prioritas pemerintah agar ditahun-tahun berikutnya terus dapat berkurang.

Semakin meningkatnya jumlah pengangguran terdidik semakin memperkuat bukti sebagian besar lulusan Perguruan Tinggi adalah lebih sebagai pencari kerja (job seeker) daripada pencipta lapangan pekerjaan (job creator). Ada beberapa alasan mengapa hal ini bisa terjadi.

Pertama, sistem pembelajaran yang diterapkan berbagai perguruan tinggi masih lebih memfokuskan bagaimana menyiapkan para mahasiswa untuk cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan, bukannya lulusan yang siap menciptakan pekerjaan.

Alasan lain, mind set mahasiswa, masih ‘pencari kerja’ bukan ‘pencipta lapangan kerja’, serta masih rendahnya aktifitas-aktivitas kewirausahaan (entrepreneurial activity) mahasiswa.

Mengurangi angka pengangguran selalu menjadi prioritas program pemerintah,  namun setiap tahun angka tersebut sulit dikurangi. Jika pun berkurang, jumlahnya sangat kecil. Dari  data jumlah pengangguran  yang ada, ternyata  penganggur dari kalangan  terdidik menunjukkan kecenderungan meningkat.

Terdapatnya permasalahan bahwa alumni perguruan tinggi  yang banyak  mengalami kesulitan untuk dapat menembus pasar dunia kerja,  terlihat pada:

-       data lamanya rata-rata waktu tunggu lulusan mendapatkan pekerjaan,

-       kurangnya kemampuan calon tenaga kerja;

-       minimnya  semangat dan ketrampilan wirausaha para lulusan.

Untuk itu dipandang perlu  kepada para mahasiswa diberikan wawasan dan pengetahuan interpreneuship agar mereka memiliki jiwa interpreneur untuk meningkatkan daya saing  di dunia kerja yang semakin kompetitive.  Hal ini yang mendasari pentingnya  upaya  untuk  menumbuhkembangkan jiwa interpreneurship di kalangan mahasiswa.

Di Indonesia, demikian juga di Bali, usaha-usaha untuk menanamkan jiwa dan semangat kewirausahaan diperguruan tinggi terus digalakan dan ditingkatkan, tentunya dengan berbagai metode dan strategi yang membuat mahasiswa tertarik untuk berwirausaha. Seperti : Pendirian Pusat  kewirusahaan Kampus, Entrepreneurship Priority, Pengembangan Program Mahasiswa Wirausaha, Program Wirausaha Mandiri Untuk Mahasiswa,dan program lainnya

Sebagai akademisi, saya mengajak bapak/ibu dan hadirin sekalian turut concern menangani entrepreneuship diperguruan tinggi yang kita cintai ini, dengan mencoba memberikan gagasan yang mungkin sederhana dan bukan sesuatu yang baru, untuk mari kita mulai mencoba mengimplementasikan melalui kegiatan pendampingan dan pelatihan interpreneur dalam menumbuhkembangkan ”geliat” entrepreneurship dikampus yang kita cintai ini.

Untuk mengatasinya, Fakultas Ekonomi Unwar sebagai lembaga pendidikan tinggi,melalui Jurusan Manajemen yang menekankan pada lulusannya wajib mempunyai ketrampilan dan kompetensi tinggi terhadap dunia usaha dan dunia industri, dengan melaksanakan program Kelas kewiarausahaan (Celas Interpreneurship) bagi mahasiswa. Sebagai bagian dari strategi pendidikan di perguruan tinggi, Program Inkubator Bisnis (IKUBIS) Unwar, dimaksudkan untuk memfasilitasi para mahasiswa yang mempunyai minat dan bakat kewirausahaan untuk mulai berlatih, mencoba memanfaatkan peluang dan tantangan berwirausaha.

Beberapa program yang diberikan meliputi pendidikan dan pelatihan kewirausahaan, magang, penyusunan rencana bisnis, Kompetisi Ide Bisnis, dan pendampingan usaha.

Harapan kami selaku pimpinan Fakultas, melalui tujuan kompetensi ide bisnis adalah menumbuhkan motivasi berwirausaha dikalangan mahasiswa, membangun sikap mental wirausaha yakni percaya diri, sadar akan jati dirinya, memotivasi untuk meraih suatu cita-cita, pantang menyerah, mampu bekerja keras, kreatif, invoatif, berani mengambil resiko dengan perhitungan, berperilaku pemimpin, dan memiliki visi ke depan, tanggap terhadap saran dan kritik, memiliki kemampuan empati dan keterampilan sosial, meningkatkan kecakapan dan keterampilan para mahasiswa khususnya sense of business, menumbuhkembangkan wirausaha-wirausaha baru yang berpendidikan tinggi, menciptakan bisnis baru yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.